Urang Sunda

Dulur nu di lemur,baraya nu di kota,hayu urang ngamumule budaya sunda..

Calung

Calung adalah alat musik Sunda yang merupakan prototipe (purwarupa) dari angklung. Berbeda dengan angklung yang dimainkan dengan cara digoyangkan, cara menabuh calungadalah dengan memukul batang (wilahan, bilah) dari ruas-ruas (tabung bambu) yang tersusun menurut titi laras (tangga nada) pentatonik (da-mi-na-ti-la). Jenis bambu untuk pembuatan calung kebanyakan dari awi wulung (bambu hitam), namun ada pula yang dibuat dari awi temen (bambu yang berwarna putih).

Angklung

Angklung adalah alat musik tradisional yang berasal dari Jawa Barat, terbuat dari bambu, yang dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar.

Karinding

Akrabkah kamu dengan kata Karinding? Yaps, Karinding merupakan sebuah alat musik yang telah beredar di masyarakat Tatar Sunda sejak abad ke-15. Terbuat dari pelepah pohon Enau (kawung) atau sebilah bambu berdimensi 10 x 2 cm, Karinding mengeluarkan suara unik yang konon menyerupai bunyi nyaring serangga yang biasa hidup di air sawah.

Kacapi

Kacapi adalah alat musik tradisional yang merupakan alat musik kelasik yang selalu mewarnai beberapa kesenian di tanah Sunda . Membuat kecapi bukanlah hal gampang. Meski sekilas tampak kecapi seperti alat musik sederhana, tetapi membuatnya tidaklah gampang. Untuk bahan bakunya saja terbuat dari kayu Kenanga yang terlebih dahulu direndam selama tiga bulan. Sedangkan senarnya, kalau ingin menghasilkan nada yang bagus, harus dari kawat suasa (logam campuran emas dan tembaga), seperti kecapi yang dibuat tempo dulu.

Suling Bambu / Suling Sunda

Alat musik ini adalah alat musik tiup terbuat dari bambu Tamiang, salah satu jenis bambu yang tipis dan diameter kecil sehingga cocok untuk dibuat seruling, suling Sunda disebut ‘suling’ yang biasa menemani Kacapi, gamelan dan gamelan Tembang Sunda, suara yang dihasilkan sangat unik dan membangkitkan jiwa pendengar, itu karena skala nada seruling dan jiwa pemain suling.

Pages

Tampilkan postingan dengan label Militer dan Polisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Militer dan Polisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Januari 2015

Mochammad Sanoesi

Jenderal Polisi (Purn.) Mochammad Sanoesi (lahir di Bogor, Jawa Barat, 15 Februari 1935 – meninggal di Jakarta, 26 Desember 2008 pada umur 73 tahun) adalah Kepala Kepolisian Republik Indonesia sejak 7 Juni 1986 hingga 19 Februari 1991.
Lulusan PTIK Angkatan VII ini kemudian dilantik menjadi Komisaris Polisi II. Selanjutnya, dia belajar di International Police Academy, Amerika Serikat (1969). Dia pun mengikuti pendidikan karier lainnya di Polri dan ABRI, seperti Seskopol (1970) dan Sesko ABRI-Gabungan (1976). Namun, karier Sanoesi dalam dinas kepolisian dimulai sejak menjabat sebagai Komandan Resort Kepolisian 1051 Madiun (1963-1968). Lalu menjabat Kastaf Komdin 104 Kediri (1968-1972) dan Paban III/Litbang, Komandan Pusat Kesenjataan Administrasi dan Kastaf Kobangdildat Polri (1972-1981).

Biografi

Kapolri Moch Sanoesi mempunyai pandangan bahwa dalam menjalankan tugasnya Polri harus mengoptimalkan seluruh potensi yang ada, baik yang dimilikinya sendiri maupun yang ada pada masyarakat. Selain itu seluruh potensi yang ada juga harus didinamisir agar mampu mendukung tugas-tugas Polri. Berangkat dari sanalah kemudian Sanoesi sebagai Kapolri mencanangkan motto Optimasi dan Dinamisasi yang kemudian terkenal dengan istilah Opdin.
Dari pengalaman bertugas di kewilayahan dan di bidang pendidikan itu, dia melihat untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di lingkungan Polri diperlukan penyempurnaan mekanisme dan sistem pendidikan Polri. Lantas dia pun mengajukan wawasan bahwa dalam melaksanakan tugas-tugasnya Polri mutlak harus dilandasi dengan penggunaan ilmu dan teknologi. Maka, lahirlah falsafah Vidya Satyatama Mitra, yang berarti, Pengetahuan adalah Sahabat Paling Setia. Agar wawasan itu terus diingat, kemudian dilekatkan pada Pataka Kobangdildat Polri berupa sasanti Widya Satyatama Mitra.
Sewaktu Sanoesi menjabat Kadis Litbang Polri (1981-1982), peran Iptek makin menjadi pengasah profesionalisme Polri. Misalnya, waktu itu, Sanoesi mengajak sejumlah pakar berbagai disiplin ilmu dari Universitas Indonesia untuk merumuskan deskripsi tentang masyarakat dari dimensi Kamtibmas. Pendidikan dan Iptek itu pula yang menjadi modal dan pengalaman berharga dalam mendinamisasikan tanggung jawabnya selaku Kapolda Kalimantan Selatan dan Tengah (1982-1984). Di Kalimantan itu pun dia menjalin dialog komunikatif dengan para tokoh masyarakat, terutama tokoh agama, dalam memelihara Kamtibmas. Dia kemudian diangkat menjadi Asisten Kepala Staf Umum ABRI Bidang Kamtibmas (Askamtibmas Kasum ABRI) pada 1984-1985, lalu menjadi Kapolda Jawa Tengah (1985).
Ketika menjabat Askamtibmas Kasum ABRI, Sanoesi diperintahkan menyusun Strategi Pembinaan Kamtibmas jangka sedang (1984-1988). Naskah inilah yang kelak menjadi embrio dari penggelaran Strategi Opdin (Optimasi dan Dinamisasi) sewaktu Sanoesi menjabat Kapolri. Strategi Opdin ini juga dimaksudkan sebagai benang merah kelanjutan dari kedua Strategi Kapolri sebelumnya, yaitu "Pola Dasar Pembenahan Polri" oleh Kapolri Jenderal Pol DR Awaloedin Djamin MPA, dan "Rencana Konsolidasi dan Fungsionalisasi (Rekonfu)" oleh Kapolri Jenderal Pol Anton Soedjarwo.
Semua itu didasarkan pada kesadarannya bahwa proses pembangunan Polri dan citranya dalam masyarakat bukanlah merupakan proses yang ditempuh secara terpenggal-penggal, melainkan merupakan suatu proses pembangunan yang berkesinambungan dan konsisten. Atas segenap pengabdiannya, antara lain Sanoesi menerima Bintang Dharma, Bintang Bhayangkara Utama, dan Bintang Yudha Dharma Nararya. Sementara dari dunia internasional dia menerima Bintang Pratama Born (Thailand), Bintang Panglima Satya Mahkota (Malaysia) dan Comandeur de la Legian D'honneur.

sumber

Roeshan Roesli

Mayjen. Purn. TNI AD Roeshan Roesli adalah salah seorang tokoh militer TNI AD dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Komandan Pusat Polisi Militer Angkatan Darat (DANPUSPOMAD) periode 1956-1961, sewaktu masih berpangkat Kolonel.
Pada masa-masa perjuangan kemerdekaan, sekitar tahun 1945, Roeshan Roesli berjuang di Semarang dengan jadi komandan Seinendan, yaitu pasukan pemuda yang dilatih oleh tentara Jepang.

Keluarga

Roeshan Roesli adalah putra dari sastrawan terkenal Indonesia, Marah Roesli dan suami dari seorang dokter bernama Edyana Roesli serta ayah dari tokoh aktivis ASI, Utami Roesli dan musisi ternama, Harry Roesli.

Nanan Soekarna

Komisaris Jenderal (Purn.) Drs. Nanan Soekarna adalah perwira tinggi Polri yang sejak 1 Maret 2011 hingga 1 Agustus 2013 menjabat Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia mendampingi Jenderal Timur Pradopo.[1] Nanan merupakan alumni terbaik Akpol 1978 (meraih Adhi Makayasa). Dia merupakan jenderal bercitra bersih dan dianggap mampu membenahi sektor internal kepolisian. Nanan pernah pula menjabat Kadiv Humas Polri (2009-2010) dan Irwasum Polri (pada 2010-2011).
Ia pensiun dari Polri per 1 Agustus dengan pangkat terakhir Komisaris Jenderal Polisi.
Saat menjabat Kapolda Kalimantan Barat, Nanan membuat gebrakan dengan menginstruksikan setiap polisi di daerahnya saat itu mengenakan pin anti korupsi yang bertajuk Saya Polisi Antikorupsi. Selain langkah fenomenalnya di Kalbar, Nanan merupakan polisi yang pernah dibina FBI di South West, Virginia, Amerika Serikat.
Kariernya sempat tercoreng kala menjabat Kapolda Sumatera Utara. Kasus meninggalnya mantan Ketua DPRD Sumut (Alm.) Abdul Aziz Angkat akibat demonstrasi yang menuntut pembentukan Provinsi Tapanuli membuat dia terpaksa ditarik ke Mabes Polri. Nanan diberi jabatan Koorsahli Kapolri.

Pendidikan

Dasar Kepolisian

  • Akpol 1978
  • PTIK 1986
  • Sespim Pol 1995
  • Sesko Gab 1999

Lembaga

  • Lemhanas 2005

Riwayat Jabatan

  • Kabagserse Polwil Bojonegoro Polda Jatim (1990-1992)
  • Wakapolresta Kediri Polwil Kediri Polda Jatim (1992-1994)
  • Korspripim Polda Metro Jaya (1995-1996)
  • Kapolres Metro Jakarta Timur Polda Metro Jaya (1996-1997)
  • Kaditserse Polda Kaltim (1997-1998)
  • Kapolwil Purwakarta Polda Jabar (2000-2001)
  • Kapolwil Bogor Polda Jabar (2001-2002)
  • Ses NCB Interpol (2002-2003)
  • Wakapolda Metro Jaya (2003-2004)
  • Kapolda Kalbar (2004)
  • Sahlisospol Kapolri (2007)
  • Kapolda Sumut (2008-2009)
  • Koorsahli Kapolri (2009)
  • Kadiv Humas Polri (2009-2010)
  • Irwasum Polri (2010-2011)
  • Wakapolri (2011-2013)

Dicalonkan sebagai Kapolri

Bersama Komjen Pol Timur Pradopo dan Komjen Pol Imam Sudjarwo, Nanan menjadi calon kuat Kepala Negara Republik Indonesia menggantikan Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri yang pensiun pada Oktober 2010[3]. Namun akhirnya nama Timur-lah (rekan satu angkatan di Akpol 1978) yang resmi diajukan kepada DPR dan dilantik oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Kapolri baru. Meski demikian, Nanan masih tenang menjalankan tugasnya sebagai Irwasum Polri sampai akhirnya menjadi Wakapolri hingga memasuki masa pensiun pada Agustus 2013


sumber

Kiki Syahnakri

Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri[1] (lahir di Karawang, Jawa Barat, 22 April 1947; umur 67 tahun) adalah tokoh militer Indonesia. Jabatan terakhirnya yaitu Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad)

Pendidikan Militer

  • Akabri 1971
  • Suslapa 1983
  • Seskoad 1987
  • Sesko TNI 1991

Riwayat Jabatan

  • Wakil Komandan Batalion Infanteri (Yonif) 744 Timor Timur
  • Wakil Komandan Komando Resor Militer (Korem) 164/Wira Dharma Komando Daerah Milter (Kodam) IX/Udayana
  • Komandan Resimen Taruna Akmil
  • Wakil Komandan Pussenif
  • Komandan Korem 164/Wira Dharma Kodam IX/Udayana
  • Wakil Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD)
  • Asisten Operasi KSAD (1998-1999)
  • Panglima Penguasa Darurat Militer Timor-Timor (September–Nopember 1999)
  • Panglima Komando Daerah Militer IX/Udayana (Nopember 1999–Nopember 2000)
  • Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Nopember 2000-Mei 2002)
sumber

Djaja Suparman

Letnan Jenderal TNI (Purn.) Djaja Suparman (lahir di Sukabumi, Jawa Barat, 11 Desember 1949; umur 65 tahun) adalah seorang mantan perwira tinggi militer TNI Angkatan Darat berbintang tiga. Ia juga merupakan mantan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad).


Karier militer

Djaja Suparman merupakan lulusan Akmil tahun 1972 yang berasal dari kesatuan infanteri baret hijau.[2] Penugasan pertamanya adalah di Kediri, sebagai Komandan Peleton (Danton). Beberapa waktu kemudian ia dipercaya sebagai Komandan Yonif 507/Sikatan (Surabaya), yang merupakan pasukan andalan Kodam V/Brawijaya. Sesudahnya, ia dipercaya sebagai Komandan Distrik Militer (Dandim) di Probolinggo. Kemudian ditarik ke Makodam V/Brawijaya, sebagai Waasops Kasdam V. Setelah berdinas di staf, Djaja ditarik kembali ke satuan tempur, sebagai Komandan Brigif 13/Galuh Kostrad (Tasikmalaya).[3]
Kariernya terus semakin menanjak setelah ia dipercaya sebagai Komandan Resimen Taruna Akmil di Magelang. Sesudah menjadi Danmentar, bintang satu diraihnya saat dipercaya sebagai Kasdam II/Sriwijaya. Setelah bertugas di Palembang, ia kembali lagi ke Surabaya, sebagai Pangdam V/Brawijaya, dengan pangkat Mayjen. Kemudian pada akhir Juni 1998, Djaja dipercaya memegang komando sebagai Pangdam Jaya menggantikan Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin.[3]
Pada bulan November 1999, Djaja ditunjuk sebagai Pangkostrad menggantikan Letjen TNI Djamari Chaniago, pangkatnya pun naik menjadi jenderal berbintang tiga atau Letnan Jenderal. Namun ia hanya sebentar menjadi Pangkostrad setelah pada bulan Maret 2000 ia digantikan oleh Letjen TNI Agus Wirahadikusumah.[4] Setelah itu ia pun menjabat sebagai Komandan Sekolah Staf dan Komando TNI (Dan Sesko TNI) dan sebelum akhirnya pensiun ia menjabat sebagai Inspektur Jenderal TNI (Irjen TNI).[5]

Kasus

Pada 26 September 2013, di Pengadilan Militer Tinggi III Surabaya, Djaja divonis 4 tahun penjara dan denda Rp 30 juta atas kasus korupsi senilai Rp 17,6 miliar ketika ia masih menjabat sebagai Pangdam Brawijaya.[6][7] Ia juga masih harus menyerahkan uang pengganti sebesar Rp 13,3 miliar, jika tidak mampu mengembalikannya ia harus menggantinya dengan hukuman tambahan selama 6 bulan.
Kasus ini bermula pada tahun 1998 ketika ia menerima kompensasi dana sebesar Rp 17,6 miliar dari PT Citra Marga Nusaphala Persada (CNMP) atas tukar guling lahan seluas 8,8 hektar di Dukuh Menanggal, Surabaya milik Kodam V/Brawijaya. Dari uang itu, sebesar Rp 4,2 miliar telah digunakan untuk keperluan Kodam dan sisanya sebanyak Rp 13,3 miliar tidak bisa dipertanggungjawabkan.

sumber

Da'i Bachtiar

Jenderal Polisi (Purn.) Da'i Bachtiar (lahir di Indramayu, Jawa Barat, 25 Januari 1950; umur 64 tahun) adalah mantan Duta Besar Indonesia untuk Malaysia sejak 8 April 2008 sampai September 2012[1]. Da'i juga pernah menjabat sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) dari 29 November 2001 hingga 7 Juli 2005.[2][3]
Ia pernah menjadi anggota Tim Gabungan Pencari Fakta Kerusuhan Mei 1998 (TGPF) dan pada saat menjabat sebagai Kapolri, ada rumor yang menyebutnya bersaing dengan Kepala Badan Intelijen Negara, Hendropriyono.


Bom Bali 2002

Pada 15 Oktober 2002, ia mengumumkan bahwa hasil penyelidikan para penyelidik Indonesia pada lokasi kejadian Bom Bali 2002 telah berhasil menemukan bekas bahan peledak plastik C-4.
Setelah salah satu tersangka pengebom, Amrozi, ditangkap, ia mengadakan pertemuan dengannya. Pada kesempatan itu, Bachtiar tampak gembira, berjabatan tangan dan berfoto dengan Amrozi.

sumber

Agus Wirahadikusumah

Agus Wirahadikusumah (lahir di Bandung, Jawa Barat, 17 Oktober 1951 – meninggal di Jakarta, 30 Agustus 2001 pada umur 49 tahun) adalah perwira tinggi militer Indonesia dan Panglima Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Kostrad).

Karier militer

Wirahadikusumah adalah lulusan akademi militer Indonesia pada tahun 1973. Ia juga belajar di Amerika Serikat, termasuk di Universitas Harvard (John F. Kennedy School of Government). Dalam tahun-tahun terakhir abad ke-20, ia menjadi Kepala Direktorat Perencanaan di Markas Angkatan Bersenjata Indonesia.
Setelah pengunduran diri Soeharto, Wirahadikusumah muncul sebagai pembaharu di jajaran angkatan bersenjata. Pada tahun 1997, ia sebagai Mayor Jenderal, ditugaskan di Markas Angkatan Bersenjata sebagai staf ahli bidang politik dan keamanan Panglima TNI.[1] Pada tahun yang sama, ia menyerukan agar militer Indonesia untuk menghentikan keterlibatan mereka dalam urusan politik dan menjadi kekuatan pertahanan profesional sebagai gantinya.
Pada Januari 1999, Mayor Jenderal Agus Wirahadikusumah, yang saat itu adalah Komandan Seskoad kemudian menjadi Asisten Perencanaan Umum Panglima TNI.
Pada tahun 2000, Presiden Gus Dur menunjuknya sebagai Pangkostrad. Ia menjabat posisi ini dari 29 Maret 2000 hingga 1 Agustus 2000. Wirahadikusumah mendukung setiap keputusan-keputusan Gus Dur, termasuk keputusan pemberhentian Jenderal Wiranto sebagai Menkopolkam. Wiranto menyebutnya sebagai "apel buruk".
Sementara Wirahadikusumah sangat populer dikalangan prajurit biasa, ia juga menciptakan musuh bagi dirinya sendiri, karena ia berusaha membersihkan Kostrad dari sejumlah dugaan kasus korupsi. Sebagai konsekuensinya, dia diberhentikan dari jabatannya sebagai Panglima Kostrad pada musim panas tahun 2000. Namun, menurut Umar Wirahadikusumah, pamannya, jabatan sebagai Panglima TNI telah ditawarkan kepada Agus Wirahadikusumah pada tanggal 23 Juli 2001.
Pada 30 Agustus 2001, Wirahadikusumah dibawa ke Rumah Sakit Pusat Pertamina di Jakarta Selatan pada pukul 06:19. Seorang pegawai rumah sakit menyatakan bahwa ia telah meninggal ketika ia dibawa masuk, penyebab meninggalnya tidak diketahui dan tidak ada otopsi yang dilakukan. Menurut The Jakarta Post, kemungkinan penyebab kematian adalah gagal jantung. Namun, beberapa orang menyatakan bahwa ia mungkin telah dibunuh,[2] karena sikap reformisnya untuk mengungkap skandal korupsi 189 miliar rupiah di Yayasan Dharma Putra Kostrad, sebuah organisasi amal milik militer.[3] Ia dimakamkan di TMP Kalibata pada siang harinya.[4]

Olahraga

Terlepas dari urusan militer, Wirahadikusumah juga tertarik pada olahraga dan ia adalah Wakil Ketua Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia. Dalam fungsi ini ia berperan dalam rencana tahun 1998 untuk mewujudkan pertemuan antara mantan juara bulu tangkis Indonesia (seperti Tan Joe Hok) dan penerus mereka untuk berbagi pengalaman mereka dan membuat mereka lebih siap untuk turnamen mendatang. Pada tahun 1998, ia adalah manajer dari tim Piala Thomas Indonesia yang memenangkan piala tahun itu. Wirahadikusumah dianugerahi Medali Satyalancana Kebudayaan untuk prestasi ini oleh Presiden, B.J. Habibie pada 9 September 1998.

Keluarga

Agus Wirahadikusumah adalah keponakan Umar Wirahadikusumah, mantan Wakil Presiden Indonesia dan juga mantan Panglima Kostrad. Agus Wirahadikusumah menikah dengan Tri Rachmaningish. Mereka memiliki dua anak: seorang putra, Yunan Mahastra Satria (lahir 22 Juni 1977) dan seorang putri, Diyah Gustinar Safitri (lahir 14 Juli 1975).

sumber

Adang Daradjatun

Komjen Pol (Purn) Adang Daradjatun (lahir di Bogor, Jawa Barat, 13 Mei 1949; umur 65 tahun) adalah salah satu tokoh kepolisian Indonesia. Ia lahir di Bogor tahun 1949 sebagai putra seorang Jaksa. Jabatan terakhirnya di Polri adalah Wakil Kepala Polri dengan pangkat Komisaris Jenderal. Adang juga adalah kandidat Gubernur DKI Jakarta dalam Pilkada 2007, dimana ia didukung oleh Partai Keadilan Sejahtera dan berpasangan dengan Dani Anwar dari Partai Keadilan Sejahtera, dan ia harus bersaing dengan pasangan Fauzi Bowo dan Prijanto. Namun akhirnya ia kalah. Saat ini ia menjadi anggota legislatif (DPR-RI) dari dapil 3 DKI Jakarta periode 2009-2014 dengan raihan suara terbanyak di antara calon-calon legislatif lainnya.Dia beristri Nunun Nurbaetie dan mempunyai empat orang anak dan lima orang cucu.

Pendidikan

  • SD : tidak diketahui (di Jakarta)
  • SMP : tidak diketahui (di Jakarta)
  • SMA : SMA 1 Budi Utomo, Jakarta dan SMA 3 Bandung
  • AKPOL: AKABRI Kepolisian, Selabintana Sukabumi (kini Akademi Kepolisian di Semarang)
  • Perguruan Tinggi : PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian) setara dengan S1 pendidikan tinggi formal
  • SESPIM (Sekolah Staf dan Pimpinan} Polri, Lembang Bandung
  • SESKO (Sekolah Staf dan Komando) ABRI

Perjalanan karier

Setelah lulus dari AKABRI tahun 1971, berturut-turut jabatan yang dipegangnya adalah :
  • Inspektur Dinas Komando Sektor Kota 711 Jakarta Pusat tahun 1971
  • Kepala Seksi Pengawasan Keselamatan Negara (PKN) Komando Sektor Kota 711 Jakpus tahun 1972
  • Kepala Seksi Sabhara Komando Sektor Kota 722 Jakarta Utara pada tahun 1975
  • Ajudan Menhankam Pangab tahun 1976
  • Kapolsek Kebayoran Lama Jakarta Selatan dengan pangkat Kapten Polisi pada tahun 1980
  • Kasubbag Anev Srena Polda Metro Jaya, 1983.
  • Kepala Biro Ops Polres Jaksel Polda Metro Jaya, 1983.
  • Wakil Kapolres Jaksel, 1984.
  • Kabag Sosbud Direktorat Intelijen & Pengamanan Polda Metro Jaya, 1986.
  • Kabag Sospol Direktorat Intelijen & Pengamanan Polri, 1987.
  • Kabag Pengawasan Senjata Api & Bahan Peledak Direktorat Intelijen & Pengamanan Polri, 1989.
  • Kepala Direktorat Intelijen & Pengamanan Polda Maluku, 1990.
  • Wakil Kepala Subdirektorat Pengawasan Senjata Api & Bahan Peledak Direktorat Intelijen & Pengamanan Polri, 1992.
  • Instruktur Utama (tenaga pendidik) di PTIK, 1993.
  • Perwira Pembantu III / Perencanaan Program dan Anggaran Srena POLRI, 1994.
  • Wakil Asisten Perencanaan dan Anggaran Kapolri (1 April 1997)
  • Asisten Perencanaan dan Anggaran Kapolri (5 Juli 1997)
  • Kapolda Jawa Barat, 2000
  • Staf Ahli Kapolri, 2001
  • Kababinkam, 2002
  • Wakapolri, 2004

Penghargaan

  • Satya Lencana Kesetiaan 24 Tahun
  • Satya Lencana Dwidya Sistha
  • Satya Lencana Karya Bhakti
  • Satya Lencana Ksatria Tamtama
  • Satya Lencana Jana Utama

 sumber

Aang Kunaefi

Mayjen TNI (Purn.) Aang Kunaefi Kartawiria (lahir di Bandung, Jawa Barat, 5 Desember 1922 – meninggal 12 November 1999 pada umur 76 tahun) adalah gubernur Jawa Barat antara tahun 1975-1985. Kariernya dimulai di militer sebagai Komandan Kodim Kota Cirebon dan Panglima Kodam VI Siliwangi. Pada 1955, ia menjabat sebagai Komandan Seskoad. Selama Menjabat jadi gubernur, Aang banyak membina hubungan baik dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Mendapat pendidikan kemiliteran di Waenaya Akademia M. W. Frunze Moskow, Uni Sovyet. Ia pernah juga menjadi Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi, Oman, dan Yaman pada 1985 - 1998.

Jabatan

 sumber