Urang Sunda

Dulur nu di lemur,baraya nu di kota,hayu urang ngamumule budaya sunda..

Calung

Calung adalah alat musik Sunda yang merupakan prototipe (purwarupa) dari angklung. Berbeda dengan angklung yang dimainkan dengan cara digoyangkan, cara menabuh calungadalah dengan memukul batang (wilahan, bilah) dari ruas-ruas (tabung bambu) yang tersusun menurut titi laras (tangga nada) pentatonik (da-mi-na-ti-la). Jenis bambu untuk pembuatan calung kebanyakan dari awi wulung (bambu hitam), namun ada pula yang dibuat dari awi temen (bambu yang berwarna putih).

Angklung

Angklung adalah alat musik tradisional yang berasal dari Jawa Barat, terbuat dari bambu, yang dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar.

Karinding

Akrabkah kamu dengan kata Karinding? Yaps, Karinding merupakan sebuah alat musik yang telah beredar di masyarakat Tatar Sunda sejak abad ke-15. Terbuat dari pelepah pohon Enau (kawung) atau sebilah bambu berdimensi 10 x 2 cm, Karinding mengeluarkan suara unik yang konon menyerupai bunyi nyaring serangga yang biasa hidup di air sawah.

Kacapi

Kacapi adalah alat musik tradisional yang merupakan alat musik kelasik yang selalu mewarnai beberapa kesenian di tanah Sunda . Membuat kecapi bukanlah hal gampang. Meski sekilas tampak kecapi seperti alat musik sederhana, tetapi membuatnya tidaklah gampang. Untuk bahan bakunya saja terbuat dari kayu Kenanga yang terlebih dahulu direndam selama tiga bulan. Sedangkan senarnya, kalau ingin menghasilkan nada yang bagus, harus dari kawat suasa (logam campuran emas dan tembaga), seperti kecapi yang dibuat tempo dulu.

Suling Bambu / Suling Sunda

Alat musik ini adalah alat musik tiup terbuat dari bambu Tamiang, salah satu jenis bambu yang tipis dan diameter kecil sehingga cocok untuk dibuat seruling, suling Sunda disebut ‘suling’ yang biasa menemani Kacapi, gamelan dan gamelan Tembang Sunda, suara yang dihasilkan sangat unik dan membangkitkan jiwa pendengar, itu karena skala nada seruling dan jiwa pemain suling.

Pages

Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Desember 2014

Sastra Sunda: Enam Belas Tokoh Sastra Sunda Berpengaruh

-- Deni Hadiansah*

SEJAUH dapat dilacak, buku atau penelitian tentang tokoh sastra Sunda yang telah diusahakan masih bisa dihitung jari. Sekadar contoh, penelitian Tini Kartini dkk. yang berjudul Biografi dan Karya Sastrawan Sunda Masa 1945-1965 (1978), Yuhana dengan Sastrawan Sunda (1979), Daéng Kanduruan Ardiwinata, Sastrawan Sunda (1979), dan Biografi dan Karya Pujangga Haji Hasan Mustapa (1985). Juga Ajip Rosidi dengan Haji Hasan Mustapa jeung Karya-karyana (1989). Adapun yang paling mutakhir adalah Ensiklopedi Sunda (2000) dan Apa Siapa Orang Sunda (2003) yang keduanya karya Ajip Rosidi dkk.

Dari dokumen yang sedikit itulah, untuk sementara dapat dibentangkan kiprah beberapa tokoh sastra Sunda. Menurut pengamatan saya, sedikitnya ada 16 tokoh yang berpengaruh dalam sastra Sunda yang mewakili zaman dan genre karya yang dihasilkannya. Adapun pemilihan dan penempatan urutan tokoh diniati hanya mengenalkan saja, tidak untuk menilai, apalagi mengesampingkan tokoh lain. Pertimbangannya pun didasarkan pada popularitas dan dominasi hasil karya yang besar pengaruhnya dalam jagat sastra Sunda.

Tokoh pertama dan kedua adalah P. H. H. Mustapa (1852-1930) dan Muh. Musa (1822-1886). Keduanya tokoh sastra Sunda terbesar pada zaman kolonial yang banyak menulis dangding dan wawacan. Sekitar tahun 1900-an, misalnya, P.H.H. Mustapa sempat menulis lebih dari 10.000 bait dangding yang kualitas literernya dianggap bermutu tinggi. Selain itu ia pun banyak menulis anekdot dan prosa. Namun kebesarannya baru disebut-sebut pada tahun 1950-an oleh Ajip Rosidi, yang selanjutnya memicu para peneliti untuk mendalaminya. Tahun 1965 P. H. H. Mustapa mendapat penghargaan dari Gubernur Jawa Barat dan pada tahun 1977 Presiden RI memberikan Anugerah Seni kepadanya sebagai sastrawan daerah Sunda.

Sedangkan Muh. Musa (1822-1886) adalah pelopor sastrawan Sunda pada paruh kedua abad 19. Karya-karyanya dalam bentuk wawacan (11 judul) dan prosa (33 judul), baik asli maupun terjemahan, banyak diterbitkan pemerintah kolonial pada waktu itu. Wawacan "Panji Wulung", merupakan salah satu karyanya yang cukup populer di masyarakat Sunda. Berkat jasa dan hubungannya yang baik dengan pemerintah kolonial, Muh. Musa sempat memperoleh medali emas. Muh. Musa pun banyak mengusahakan buku bacaan berbahasa Sunda. Menurut catatan Moriyama (2005), Muh. Musa sedikitnya menerbitkan 14 judul buku yang dicetak pada zaman pemerintah kolonial.

Tokoh ketiga dan keempat adalah D.K. Ardiwinata (1866-1947) dan Yuhana. Keduanya tokoh sastra Sunda pada zaman Balai Pustaka yang banyak menulis novel. Baruang ka nu Ngarora (1914) adalah novel pertama berbahasa Sunda yang ditulis oleh D.K. Ardiwinata. Selain itu ia pun menulis dongeng dan banyak menyadur karya-karya pengarang dunia.

Pemikirannya yang terpenting adalah bahwa orang Sunda harus banyak menulis prosa ketimbang puisi (dangding) yang sering kali merusak bahasa karena hendak memenuhi aturan pupuh. Adapun Yuhana (nama aslinya Achmad Bassach) adalah pengarang novel Sunda yang karya-karyanya setia diterbitkan oleh penerbit swasta. Tidak tercatat satu pun novelnya yang diterbitkan Balai Pustaka. Novel populernya yang pertama adalah Carios Eulis Acih (1923). Novel tersebut menuai sukses besar pada waktu itu dan sempat dibuat film. Setelah itu keluar novelnya yang lain, seperti Neng Yaya (1923), Agan Permas (1926), dan yang paling terkenal Rasiah nu Goréng Patut (1928) atau lebih dikenal dengan Karnadi Anémer Bangkong karena tokoh utamanya bernama Karnadi.

Novel ini dikarang bersama dengan Sukria serta pernah dibuat film. Hal yang membuat Yuhana dapat digolongkan sebagai pembaru sastra Sunda karena karya-karyanya dapat hidup di luar bayang-bayang Balai Pustaka. Meski berbeda gaya dalam berkarya, keduanya berpengaruh dalam sastra Sunda, terutama dalam penulisan novel.

Tokoh kelima dan keenam adalah GS dan Tini Kartini (lahir 1933-sekarang). Menurut M.A. Salmun, GS bernama lengkap G. Sastradiredja. Namun menurut R. Éro Bratakusumah, GS bernama lengkap G. Soewandakoesoemah. GS adalah pelopor penulisan cerpen berbahasa Sunda. Dogdog Pangréwong (1930) adalah kumpulan cerpennya yang pertama dalam bahasa Sunda dan merupakan kumpulan cerpen yang pertama terbit di Indonesia. Isinya delapan cerpen bernada humor yang dialog antartokohnya terasa hidup.

Selain menulis cerpen, GS pun menulis karangan lepas dalam majalah Parahiangan. Adapun Tini Kartini dapat disebutkan sebagai pengarang wanita cukup kuat dalam cerpen Sunda. Kumpulan cerpennya yang pertama terbit ialah Jurig!, Paméran, dan Nyi Karsih. Selain itu Tini Kartini banyak melakukan penelitian tentang sastra dan sastrawan Sunda. Meskipun keduanya berbeda zaman, namun dalam hal kepengarangannya, baik GS maupun Tini Kartini termasuk tokoh berpengaruh dalam sastra Sunda, terutama dalam penulisan cerpen.

Tokoh ketujuh dan kedelapan adalah Kis Ws (1922-1995) dan Sayudi (1932-2000). Keduanya pelopor dan pembaru dalam penulisan sajak Sunda. Kis Ws adalah orang Sunda pertama yang menulis sajak Sunda sekitar tahun 1950-an. Sempat terjadi polemik ketika sajaknya untuk pertama kali dimuat dalam Sk. Sipatahunan, karena pada waktu itu orang Sunda lebih mengenal dangding. Selain menulis sajak, Kis Ws pun banyak menulis cerpen dan esai. Adapun Sayudi banyak disebut sebagai penulis sajak epik pertama dalam sastra Sunda. Lalaki di Tegal Pati (1962) merupakan buku kumpulan sajak karya Sayudi dan pertama dalam sastra Sunda. Setelah itu Sayudi mengeluarkan kumpulan sajaknya yang kedua berjudul Madraji (1983). Banyak ahli menyebutkan bahwa Madraji merupakan carita pantun modern, karena bentuknya seperti paduan antara sajak dan carita pantun. Kis Ws dan Sayudi merupakan tokoh berpengaruh dalam sastra Sunda, terutama dalam penulisan sajak.

Tokoh kesembilan dan kesepuluh adalah RAF (1929-2008) dan R.H. Hidayat Suryalaga (1941-sekarang). Keduanya sastrawan yang banyak menulis naskah drama, atau setidaknya mempunyai perhatian yang luas terhadap dunia teater. RAF (Haji Rahmatullah Ading Affandie) disebut-sebut sebagai pelopor dalam drama Sunda modern. Lewat jasa-jasanya kita pernah melihat gending karesmen dan drama berbahasa Sunda muncul pertama kalinya di layar kaca TVRI. "Inohong di Bojongrangkong" adalah judul sinetron (?) garapannya yang cukup melegenda dan sangat dipikalandep oleh penonton TVRI pada masanya. Ditayangkan sebulan sekali sampai 110 episode.

R.H. Hidayat Suryalaga banyak menulis naskah gending karesmen, longser, dan drama berbahasa Sunda. Penelitian Agus Suherman (1998) mencatat lebih dari 25 naskah gending karesmen, longser, dan drama yang sudah ditulis R.H. Hidayat Suryalaga. Di antara naskah drama yang paling kuat adalah "Sanghyang Tapak", "Cempor", dan "Setatsion Para Arwah". R.H . Hidayat Suryalaga termasuk tokoh yang memelopori berdirinya Teater Sunda Kiwari (1975) dan berhasil menerjemahkan Alquran ke dalam bentuk pupuh. Keduanya bolehlah disebut tokoh berpengaruh dalam penulisan naskah drama dan gending karesmen.

Tokoh kesebelas dan keduabelas adalah Ajip Rosidi (1938-sekarang) dan Duduh Durahman (1939-sekarang). Keduanya kritikus kuat dalam sastra Sunda. Ajip Rosidi dipandang sebagai tokoh kritis, frontal, dan pemberani dalam berpolemik. Banyak esai kritik yang telah ditulisnya, di antaranya dikumpulkan dalam buku Dur Panjak! (1967), Dengkleung Déngdék (1985), Hurip Waras! (1988), dan Trang-trang Koléntrang (1999). Selain itu Ajip Rosidi pun banyak berkiprah dalam dunia penerbitan. Namun pekerjaan raksasanya dalam dunia sastra Sunda antara lain penelitian tentang folklor dan pantun Sunda, penyusunan Ensiklopedi Sunda, pemrakarsa Konferensi Internasional Budaya Sunda I, dan sejak tahun 1989 secara rutin memberikan Hadiah Rancagé untuk sastrawan berbahasa Sunda.

Adapun Duduh Durahman, banyak menulis kritik terhadap sastra Sunda. Karya kritiknya telah dikumpulkan dalam Catetan Prosa Sunda (1984) dan Sastra Sunda Sausap Saulas (1991). Selain itu Duduh Durahman pun banyak menulis cerpen dan setia mengasuh rubrik sastra di majalah Manglé. Duduh Durahman pun dikenal sebagai aktor dan kritikus film. Maka meskipun tidak sejajar dalam produktivitas berkarya dan aktivitas kegiatan, keduanya tokoh berpengaruh terutama dalam penulisan kritik sastra.

Tokoh ketigabelas dan keempatbelas adalah Wahyu Wibisana (1935-sekarang) dan Yus Rusyana (1938-sekarang). Keduanya praktisi sekaligus akademisi sastra Sunda yang banyak menulis sajak, prosa, maupun drama dalam bahasa Sunda. Sebagai akademisi, keduanya memang seorang pendidik dan peneliti. Wahyu Wibisana, misalnya, pernah menjadi guru SD dan dosen tamu di IKIP Bandung. Selain itu Wahyu pun banyak melakukan penelitian dalam bidang sastra Sunda, menyusun kurikulum mata pelajaran bahasa dan sastra Sunda, menulis buku pelajaran sastra Sunda, dan menulis berbagai makalah tentang sastra Sunda yang disampaikan dalam forum pendidikan.

Yus Rusyana adalah guru besar bahasa dan sastra Indonesia dan Sunda pada Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Banyak melakukan penelitian, menulis buku pelajaran sastra Sunda, dan menyampaikan prasaran dalam forum ilmiah. Beliaulah sastrawan Sunda yang pertama mendapat hadiah Rancagé lewat karyanya Jajatén Ninggang Papastén (1989). Selain sebagai sastrawan, keduanya dapat ditempatkan sebagai tokoh akademisi dalam sastra Sunda.

Tokoh kelimabelas dan keenambelas adalah Godi Suwarna (1956-sekarang) dan Etty R.S. (1958-sekarang). Keduanya pengarang sajak Sunda yang sangat potensial. Godi Suwarna pernah menggemparkan jagat Sunda berkat sajak-sajaknya yang dekonsturktif. Kata-kata dalam sajak-sajak Godi punya idiom bahasa Sunda yang khas. Idiom tersebut merupakan paduan antara bahasa Sunda lulugu, dialek, dan populer. Selain piawai menulis, Godi juga sangat terampil membaca sajak.

Adapun Etty R.S. merupakan pengarang wanita dalam sajak Sunda yang kuat dalam memilih diksi. Sajak-sajaknya realistis dan sedikit arkhais. Banyak yang menyatakan bahwa Etty pelopor pengarang wanita dalam menulis sajak Sunda kontemporer. Baik Godi maupun Etty R.S., keduanya merupakan pelopor dalam penulisan sajak Sunda kontemporer. Di tangan Godi dan Etty, sajak Sunda dapat disukai oleh remaja dan anak-anak sekolah. Terbukti dalam setiap perlombaan deklamasi sajak Sunda antarpelajar, sajak Godi dan Etty selalu menjadi sajak wajib untuk dideklamasikan.

Itulah 16 tokoh berpengaruh dalam sastra Sunda. Dari jumlah tersebut, beberapa di antaranya sempat mendapat hadiah Rancagé, Yus Rusyana untuk karya (1989) dan jasa (2000), RAF untuk karya (1991) dan jasa (1998), Godi Suwarna untuk karya (1993, 1996, 2008), Kis Ws untuk jasa (1993), Sayudi untuk jasa (1994), Etty RS untuk karya (1995), Wahyu Wibisana untuk jasa (1997), Duduh Durahman untuk jasa (1999), dan Tini Kartini untuk jasa (2003).

Sebenarnya masih banyak tokoh sastra Sunda lainnya yang berpengaruh. Sebutlah, antara lain R. Méméd Sastrahadiprawira, Moh. Ambri, Ki Umbara, Sjarif Amin, Muh. Rustandi Kartakusuma, Abdullah Mustapa, Yoseph Iskandar, H. Rusman Sutiasumarga, Dedy Windyagiri, Holisoh MÉ, dan Tatang Sumarsono. Dengan demikian, maka apa yang dapat dilakukan? Kiranya harus ada tulisan tentang 100 tokoh berpengaruh dalam sastra Sunda. ***

* Deni Hadiansah, Mahasiswa S-2 Kajian Sastra Kontemporer Unpad Bandung, pengasuh acara "Ngamumulé Basa Sunda" di RRI Bandung, aktif di Yayasan Atikan Sunda (YAS) Bandung.

Sumber: Khazanah, Pikiran Rakyat, Sabtu, 24 Mei 2008

Hati Orang Sunda Ada di Wahyu Wibisana

Hati Orang Sunda Ada di Wahyu Wibisana - wahyu,_ajip_dan_rektor.jpg
dokumentasi
Wahyu Wibisana (berkemeja batik biru) bersama sastrawan Ajip Rosidi lawan debatnya dan Rektor UPI Prof Dr Soenaryo Kartadinata.
Hati Orang Sunda Ada di Wahyu Wibisana - WAHYU_DAN_CUCUNYA.jpg
dokumentasi keluarga
Wahyu Wibisana, sastrawan Sunda paling berbakat bersama cucunya
Hati Orang Sunda Ada di Wahyu Wibisana - wahyu_dan_istri.jpg
dokumentasi keluarga
Wahyu Wibisana bersama istrinya Utju Sukaesih
Hati Orang Sunda Ada di Wahyu Wibisana - wahyu,_ajip_dan_rektor.jpg
dokumentasi
Wahyu Wibisana (berkemeja batik biru) bersama sastrawan Ajip Rosidi lawan debatnya dan Rektor UPI Prof Dr Soenaryo Kartadinata.
Hati Orang Sunda Ada di Wahyu Wibisana - WAHYU_DAN_CUCUNYA.jpg
dokumentasi keluarga
Wahyu Wibisana, sastrawan Sunda paling berbakat bersama cucunya
Oleh Cecep Burdansyah
SOROT matanya yang tajam dan raut muka yang menyelidik dengan dahi mengerenyit, sudah tentu membuat orang yang dipandangnya akan gentar, bahkan takut. Apalagi anak muda yang baru mengenalnya.
Namun, begitu kita mengenalnya, ia adalah sosok yang penuh perhatian, bersedia "ngaping" alias membimbing pada siapa pun tanpa pilih bulu. Tak heran kalau pada awalnya takut, malah menjadi rindu untuk selalu bertemu. Soal wibawa, ia memang sosok yang disegani siapa pun.
Wahyu Wibisana, nama yang sangat dikenal dan disegani dalam jagat sastra, bahasa dan kesenian Sunda. Kepergiannya pada Senin (13/1) pukul 00.30 tadi malam di RS Al Islam, Bandung, membuat banyak orang tersentak, sedih, dan merasa kehilangan. Walaupun beberapa orang tahu akhir-akhir ini Wahyu ke luar masuk rumah sakit karena penyakit yang dideritanya, tetap saja kepergiannya menyentak.
Ratusan orang yang sempat jadi jadi murid, sahabat, teman diskusi, bahkan lawan debat mengantar jenazah Wahyu ke peristirahatan terakhir di kampung halamannya, di Cisayong Tasikmalaya, kemarin siang. Tampak seniman Godi Suwarna yang menangis tak henti-henti, Hawe Setiawan, Usep Romli, Darpan, Hadi Aks, serta sejumlah sahabat almarhum dari berbagai perguruan tinggi dan kalangan. Wahyu dimakamkan dekat makam ibu bapak dan kakaknya di belakang rumah masa kecilnya.
Di mata para pengarang Sunda, Wahyu adalah sastrawan serba bisa dan  paling lengkap. Ia tokoh yang dikenal sangat keras dalam menerapkan disiplin berkesenian dan bekerja.
"Bagi saya Wahyu seniman paling lengkap dan serba bisa. Saya sangat kehilangan," kata Etti RS, sastrawan peraih hadiah sastra Rancage yang tak bisa menyembunyikan rasa dukanya sehabis melayat ke rumah duka di Jalan Geger Kalong Tengah, Bandung, kemarin.
Siapa pun yang pernah bekerja sama dengan Wahyu, pasti sempat terkena marah. Namun semua orang menafsirkan marahnya Wahyu itu sebagai kasih sayang dan bentuk penegakan disiplin dan kerja keras agar hasil kerja kesenian itu prima dan tidak mengecewakan. Banyak orang-orang yang dekat dan pernah bekerja sama dengan Wahyu Wibisana mencapai sukses, sebut saja Godi Suwarna, Hadi AKS, Darpan. Ketiganya merupakan sastrawan yang ikut mewarnai khazanah sastra Sunda. Godi dan Darpan bahkan pernah menyabet hadiah sastra Sunda.
Banyak sekali karya-karya Wahyu Wibisana yang fenomenal dan luar biasa, baik karya sastranya seperti sajak dan cerpen (carpon), gending karesmen (drama suara), teater, kawih maupun syair dalam tembang Sunda.
Di antara karya gending karesmen yang mampu mempesona penonton dan menjadi buah bibir, antara lain "Munding Laya Saba Langit", "Galunggung Ngadeg Tumenggung", dan "Si Kabayan", sedangkan drama suara bagi anak-anak yang sangat menyentuh dan menguras air mata, yaitu yang berjudul "Geber-geber Hihid Aing". 
Beberapa karya dramanya yang sering dipentaskan hingga kini oleh grup Teater Sunda Kiwari adalah "Tonggeret Banen" dan "Tukang Asahan".
Karya dalam bentuk sajak yang sudah dibukukan, yaitu "Urang Naon di Cinaon", "Kembang Katiga" dan "Riring-riring Tjiawaking". Sedangkan dalam bentuk  prosa atau cerita pendek yang paling terkenal, antara lain "Dehem" dan "Kawung Ratu". 
Keunggulan karya Wahyu itu hampir semuanya, dalam genre apa pun, mampu menghayati dan merasuki batin yang dirasakan orang Sunda. Cobalah dengarkan lagu "Kembang Tanjung Panineungan",  lagu yang diaransemen Mang Koko berdasarkan syair karya Wahyu ini sangat menggetarkan. Lagu ini berkisah tentang istri yang tengah mengandung ditinggalkan suaminya pergi ke medan pagar betis berjuang menghadapi masa-masa pemberontakan di Jawa Barat dan suaminya itu tewas. Kandungan lagu ini sangat relijius dan yang mendengarkan akan semakin menyayangi keluarganya dan betapa berharganya perjuangan sang suami.
Sebaliknya, dalam lagu yang kasmaran pun, Wahyu mampu membangkitkan asmara bagi yang mendengarnya. Misalnya kawih "Malati di Gunung Guntur" yang dianggit Mang Koko. Begitu pula lagu panambih dalam tembang Sunda yang berjudul "Bungur Jalan ka Cianjur".
Menurut Darpan, sastrawan yang cukup dekat dengan Wahyu, karya-karya Wahyu kalau membicarakan asmara, maka yang mendengar atau membaca karyanya akan merasakan getar asmara. Coba saja baca cerita pendeknya berjudul "Dehem", kita bukan saja menemukan kisah asmara dalam cerpen itu, tapi ikut merasakan getarannya.
Begitu pula karya yang mengisahkan kasih sayang anak-anak, seperti dalam drama suara "Geber-geber Hihid Aing", maka kita akan merasakan betapa karya itu bisa menggetarkan bukan saja anak-anak, tapi juga orang dewasa.
"Kalau mengutip pendapat sahabatnya, Yus Rusyana, visi misi Sunda itu ada di Ajip Rosidi, maka hatinya orang Sunda itu ada di Wahyu Wibisana," kata Darpan yang ikut mengantar jenazah ke Cisayong.
Hawe Setiawan, doktor seni lulusan ITB, berpendapat, Wahyu adalah monumen dalam sastra dan bahasa Sunda yang sampai saat ini belum tertandingi siapa pun.
"Dalam karya Wahyu, orang Sunda menemukan daya ungkap yang tepat," kata Hawe, yang menurutnya motto Silih Asah, Silih Asuh, Silih Asih pun merupakan motto karya Wahyu Wibisana

sumber

Karya-Karya Wahyu Wibisana Pieunteungeun Urang Sunda

Sumber Inspirasi Itu Telah Tiada

SEMUA seniman dan sastrawan Sunda berduka atas meninggalnya “mahaguru” pengarang Sunda, Kang Wahyu Wibisana Senin (13/10/2014).
Begitu juga kalangan pengajar di Kabupaten Ta­sik­makaya merasa kehilangan sosok sastrawan Sunda yang banyak memberi inspirasi di bidang pendidikan.
“Ngiring bela sungkawa, mu­dah-Mudahan Kang Wahyu ke­nging rohmat Alloh, karya Karya Kang Wahyu janten pieunteungeun urang Sunda,” kata Ketua PGRI Kabupaten Tasikmalaya, H Yedi Kusmayadi Senin (13/11/­2014)
Sebagai seorang pimpinan dalam organisasi besar pengajar, Yedi mengaku sangat kehilangan dengan meninggalnya Mahaguru Sastra Sunda tersebut.
“Mudah-mudahan sing aya nu neraskeun, sangkan ajen-inajen Sunda tetep aya, teu pareumeun obor,” katanya lagi.
Apalagi karya sastra Kang Wahyu banyak dijadikan model dan inspirasi dalam mengajarkan tatakrama atau etika kepada siswa di sekolah oleh para pengajar, di samping jiga mengajarkan budaya, sastra dan bahasa sunda.
“Karya-karya Kang Wahyu Wibisana yang dimuat di Majalah Mangle sering kami jadikan referensi dalam memberika pelajaran kepada siswa mengenai budaya dan bahasa Sunda,” ujarnya.
Kata dia, dalam bidang ilmu sastra Sunda, kang wahyu sudah sangat tinggi ilmu pengetahuannya atau “adiluhung” dan tiada bandingannya sebagai seorang sastrawan Sunda.
Karya peninggalannya, kata Yedi bisa dijadikan pijakan dalam melestarikan budaya dan sastra sunda yang kondisinya saat ini sudah berada di persimpangan jalan.
Banyak anak muda yang merupakan keturunan sunda tetapi tidak bisa berbicara sunda.
Sehingga butuh penerus Kang Wahyu sehingga di masa depan akan tumbuh 1000 kang Wahyu baru yang melestarikan budaya dan sastra Sunda.
Banyak yang kehilangan atas meninggalnya tokoh Sastra Sunda tersebut bukan hanya kaum pengajar.
Kuncen Fiksi­mini Basa Sunda (FBS) dalam laman Facebook yang dikelola­nya me­nu­lis kalimat perpisahan yang cukup menyayat perasaan.

“ WILUJENG ANGKAT, MAHAGURU....
Tos mulang
ka Kalanggengan:
Kang Wahyu Wibisana, Mahaguru sakabéh panga­rang Sunda, nu teu weléh numu­wuhkeun karancagé dina molah makayakeun basa titinggal karuhun.

Wilujeng angkat, Kakang...
Warnaning karya salira baris manjang kumalangkang dina ringkang sastra Sunda ti kiwari tug ka jaga. Rupining piwuruk Kakang bakal manjang run tumurun tina manah kana manah urang Sunda nu rancagé.

Bukan hanya kalimat bela sungkawa saja yang ditulis sang kuncen FBS, tetapi juga ditambah dengan sebuah sajak berjudul jalan Satapak “Wilujeng miang, Kakang.... Mung iasa jajap ku sakotrét sajak JALAN SATAPAK”

Jungjunan,
Sapanjang kiceup cicika
Mulungan genclang
purnama
Ringkang awor jeung
cahaya
Nu ngendat ti sunyaruri
(Lumaku. Ngetak di jalan
satapak

Nyorang kembang jeung rurungkang)” sebait sajak Sunda itu menunjukan betapa besarnya jasa Mahaguru Kang Wayhu Wibisana terhadap para penulis Sunda.
Kang Wahyu sendiri asli pituin urang Tasikmalaya tepatnya di Cisayong yang lahir pada 19 Januari 1935.
Selain sebagai seorang pe­nulis sajak juga sebagai pe­nulis skenario yang me­rangkap sebagai sutradara.
Karya sastra Kang Wahyu sangat banyak yang beberapa di antaranya diaransemen oleh Mang Koko almarhum menjadi kawih-kawih.
Sebut saja, antara lain “Bulan Ban­dung Pani–neungan”, “Kem­bang Tan­jung Panineungan”, “Reu­mis Beu­reum dina Eu­rih”, “Sa­moja” karya sastra Sun­da yang diubah menjadi lagu.
Kang Wahyu juga banyak menulis karya Sastra Sunda yang dimuat di bebeberapa media khusunya media Sunda.
Karya sastra Sunda yang cukup fenomenal antara lain, Dua Utusan (1956), Wangsit Sili­wangi (1964), Tonggérét Ba­­nén (1967), Mundinglaya di Kusumah (1975), Geber-Geber Hihid Aing (1976), Tukang Asahan (1978), Urang Naon di Cinaon (Kumpulan Sajak-1992), Riring-Riring Ciawa­king (Kumpulan Dangding, 1999), Anaking Jimat Awaking (Kum­pulan Prosa Lirik, 2002).
Pada Tahun 2013, Wahyu Wibisana dianugrahi “Anuge­rah Ruma­wat Padjadjaran 2013” bidang kebudayaan oleh Universitas Padjajaran Ban­dung. (Abdul Latif/ KP”)***
sumber