Urang Sunda

Dulur nu di lemur,baraya nu di kota,hayu urang ngamumule budaya sunda..

Calung

Calung adalah alat musik Sunda yang merupakan prototipe (purwarupa) dari angklung. Berbeda dengan angklung yang dimainkan dengan cara digoyangkan, cara menabuh calungadalah dengan memukul batang (wilahan, bilah) dari ruas-ruas (tabung bambu) yang tersusun menurut titi laras (tangga nada) pentatonik (da-mi-na-ti-la). Jenis bambu untuk pembuatan calung kebanyakan dari awi wulung (bambu hitam), namun ada pula yang dibuat dari awi temen (bambu yang berwarna putih).

Angklung

Angklung adalah alat musik tradisional yang berasal dari Jawa Barat, terbuat dari bambu, yang dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar.

Karinding

Akrabkah kamu dengan kata Karinding? Yaps, Karinding merupakan sebuah alat musik yang telah beredar di masyarakat Tatar Sunda sejak abad ke-15. Terbuat dari pelepah pohon Enau (kawung) atau sebilah bambu berdimensi 10 x 2 cm, Karinding mengeluarkan suara unik yang konon menyerupai bunyi nyaring serangga yang biasa hidup di air sawah.

Kacapi

Kacapi adalah alat musik tradisional yang merupakan alat musik kelasik yang selalu mewarnai beberapa kesenian di tanah Sunda . Membuat kecapi bukanlah hal gampang. Meski sekilas tampak kecapi seperti alat musik sederhana, tetapi membuatnya tidaklah gampang. Untuk bahan bakunya saja terbuat dari kayu Kenanga yang terlebih dahulu direndam selama tiga bulan. Sedangkan senarnya, kalau ingin menghasilkan nada yang bagus, harus dari kawat suasa (logam campuran emas dan tembaga), seperti kecapi yang dibuat tempo dulu.

Suling Bambu / Suling Sunda

Alat musik ini adalah alat musik tiup terbuat dari bambu Tamiang, salah satu jenis bambu yang tipis dan diameter kecil sehingga cocok untuk dibuat seruling, suling Sunda disebut ‘suling’ yang biasa menemani Kacapi, gamelan dan gamelan Tembang Sunda, suara yang dihasilkan sangat unik dan membangkitkan jiwa pendengar, itu karena skala nada seruling dan jiwa pemain suling.

Pages

Tampilkan postingan dengan label Aktivis dan Pejuang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aktivis dan Pejuang. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Desember 2014

Idik Sulaeman



H. Idik Sulaeman Nataatmadja, AT (lahir di Kuningan, Jawa Barat, Indonesia, 20 Juli 1933; umur 81 tahun; biasa dipanggil dengan Idik Sulaeman) adalah pencetus nama PASKIBRAKA. Adik didik Husein Mutahar di kepanduan ini jugalah yang menyempurnakan seluruh kelengkapan Paskibraka sebagai sebuah Korps, mulai dari sistem/metode pelatihan, silabus, atribut dan kelengkapannya.
Idik menghabiskan masa kecil di daerah kelahirannya, sampai tamat SMP di Purwakarta dan pindah ke Jakarta saat masuk SMA. Sejak kecil, jiwa seni sudah terlihat dalam dirinya. Tak heran bila setamat SMA Idik memilih seni rupa sebagai pilihan profesinya dengan menamatkan pendidikan sebagai sarjana seni rupa di Departemen Ilmu Teknik Institut Teknologi Bandung ITB pada 9 April 1960.
Idik Sulaeman memulai kariernya di Balai Penelitian Tekstil (1960-1964). Pada 1 Februari 1965 ia diangkat menjadi Kepala Biro Menteri Perindustrian dan Kerajinan yang saat itu dijabat Mayjen TNI dr. Azis Saleh.
Dunia seni dan tekstil harus ditinggalkan ketika Idik pindah kerja ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud), sebagai Kepala Dinas Pengembangan dan Latihan pada 1 Desember 1967. Saat inilah, ia banyak membantu Husein Mutahar dalam mewujudkan gagasannya membentuk Paskibraka.
Bersama dengan para pembina lainnya, Idik membantu Mutahar menyempurnakan konsep pembinaan Paskibraka. Pasukan yang pada tahun 1966 dan 1967 diberi nama Pasukan Pengerek Bendera Pusaka, pada tahun 1973 mendapat nama baru yang dilontarkan oleh Idik. Nama itu adalah PASKIBRAKA, yang merupakan akronim dengan kepanjangan PASuKan PengIBar BendeRA PusaKA.
Selain memberi nama, Idik juga menyempurnakan wujud Paskibraka dengan menciptakan Seragam Paskibraka, Lambang Korps, Lambang Anggota, serta Tanda Pengukuhan berupa Lencana Merah-Putih Garuda (MPG) dan Kendit Kecakapan.
Pada 30 Juni 1975, ia diangkat menjadi Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Pembinaan Kegiatan di Direktorat Pembinaan Generasi Muda (Ditbinmud). Pada 9 Maret 1977, ia mencapai posisi puncak di Ditbinmud setelah ditunjuk sebagai Pelaksana Harian Direktur Pembinaan Generasi Muda, Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Olahraga (Ditjen PLSOR). Tiga tahun penuh ia benar-benar menjadi ”komandan” dalam latihan Paskibraka, yakni Paskibraka 1977, 1978 dan 1979.
Pada 24 November 1979, Idik ditarik ke Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah Dikdasmen) dan menjabat Direktur Pembinaan Kesiswaan sampai 15 November 1983. Selama empat tahun itu, dengan latar belakang pendidikan seni rupa dan pengalaman kerja di bidang tekstil, Idik mencatat sejarah dalam penciptaan seragam sekolah yang kita kenal sampai sekarang: SD putih-merah, SMP putih-biru dan SMA putih-abu-abu, lengkap dengan lambang sekolah dasar (SD) dan OSIS yang kini selalu melekat di saku kiri seragam sekolah.
Idik menikah dengan Aisah Martalogawa pada 29 Oktober 1961, Idik dikaruniai tiga anak, yakni Ir. Ars Isandra Matin Ahmad (yang beristrikan Ir.ars Retno Audite), Isantia Dita Asiah (yang bersuamikan Drs. Mohammad Imam Hidayat), dan Dra Isanilda Dea Latifah yang bersuamikan Ari Reza Iskandar). Dari ketiganya, Idik memiliki enam orang cucu, masing-masing 3 cucu laki-laki dan 3 cucu perempuan.
Kak Idik meninggal pada tahun 2013. Jasa-jasanya juga sangat luar biasa dalam penerbitan buku-buku pramuka di Indonesia.

sumber

Utami Roesli

dr. Utami Roesli, SpA, IBCLC, FABM (lahir di Semarang, Jawa Tengah, 17 September 1945; umur 69 tahun) adalah seorang dokter Indonesia. Ia dikenal sebagai seorang aktivis yang gigih memperjuangkan hak-hak bayi untuk mendapatkan ASI yang baik. Menurut Utami, bayi tidak sepantasnya diberi susu formula yang berasal dari susu sapi.
Sebagai seorang aktivis dan pejuang ASI, ia dengan beberapa orang tokoh lainnya mendirikan lembaga Sentra Laktasi Indonesia (Selasi), dan menjabat sebagai ketuanya. Disamping itu ia juga berpraktek di Klinik Lakstasi Rumah Sakit St. Carolus Salemba, Jakarta.
Kegigihan Utami mengampanyekan ASI eksklusif dan mengajarkan "Inisiasi Menyusui Dini" tak terlepas dari pengalaman pahitnya ketika gagal menyusui 2 orang anaknya secara sempurna atau eksklusif, yaitu selama 2 tahun.

Riwayat

Kehidupan pribadi

Utami Roesli yang berdarah Minangkabau dari kakeknya, sastrawan terkenal Marah Roesli juga adalah kakak kandung musisi Harry Roesli dan putri dari Roeshan Roesli, seorang perwira tinggi TNI AD yang pernah menjabat Komandan Puspomad. Dari hasil pernikahannya, Utami dikaruniai 2 orang anak dan 3 orang cucu.

Pendidikan

  • Lulus Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran (Unpad), Bandung (1972)
  • Lulus Pendidikan Spesialis Anak Fakultas Kedokteran Unpad, Bandung (1980)
  • Lulus Master Business Administration, University of the City of Manila, Manila, Filipina (1994)
Pendidikan tambahan
  • Pendidikan neonatologi di Sint Raadbout Hospital, Nijmegen, Belanda (1987)
  • Sertifikasi konsultan laktasi dari International Board Certified Lactation Consultant (IBCLC) (2001) dan disertifikasi ulang (2006)
  • Meraih gelar Fellow of Academic Breastfeeding Medicine (FABM) dari American Academic Breastfeeding Medicine, Amerika Serikat (2008)

Penghargaan

  • Tanda Kehormatan Satya Lancana Karya 20 tahun dari Presiden RI, B.J. Habibie (1999)
  • Tanda Penghargaan Bakti Karya Husada Tri Windu dari Menteri Kesehatan RI, Farid Anfasa Moeloek (1999)
  • Tanda Penghargaan Ksatria Bakti Husada ARUTALA dalam pembangunan nasional di bidang kesehatan dari Menteri Kesehatan RI, Achmad Sujudi (2001)
  • Piagam Penghargaan atas peran serta aktif dalam menyukseskan penyelenggaraan Pekan ASI se-Dunia tahun 2006 dari Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan (2006)
  • Tanda Penghargaan sebagai tokoh yang konsisten dalam pengembangan program ASI eksklusif dari IDAI cabang DKI Jakarta (2006)
  • Tanda Penghargaan Wahidin Sudirohusodo atas jasanya dalam pengembangan program ASI eksklusif dari IDI (2006)
  • Dilantik sebagai Duta IDI (2007-2008). 
sumber

Teten Masduki

Teten Masduki (lahir di Garut, Jawa Barat, 6 Mei 1963; umur 51 tahun) adalah seorang aktivis Indonesia.
Terlahir dari keluarga petani, masa kecil Teten dihabiskan di Kecamatan Limbangan, Garut, Jawa Barat. setamat dari SMA, ia kuliah di IKIP Bandung, mengambil jurusan kimia. Kesadaran terhadap masalah-masalah sosial sudah tumbuh sejak SMA. Saat kuliah ia sering ikut kelompok diskusi, mempelajari teori-teori dari yang kiri sampai yang kanan. Sekitar 1985, Teten ikut aksi demontrasi membela petani di Garut, yang tanahnya dirampas.
Nama Teten mencuat ketika Indonesia Corruption Watch (ICW), yang dipimpinnya, membongkar kasus suap yang melibatkan Jaksa Agung (saat itu) Andi M. Ghalib pada masa pemerintahan B.J. Habibie. Inilah pertama kalinya dalam sejarah sebuah lembaga seperti ICW bisa memaksa seorang pejabat tinggi negara turun dari jabatannya. Berkat kegigihannya mengungkap kasus tersebut, Teten dianugerahi Suardi Tasrif Award 1999.
Pada tahun 2012 Teten memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai Wakil Gubernur mendampingi Rieke Diah Pitaloka dalam Pilgub Jawa Barat 2013, Pasangan Rieke - Teten yang diberi nama PATEN ini diusung oleh PDI-P dengan nomor urut 5.
Pada tanggal 3 Maret 2013 diumumkan hasil Pilkada Gubernur - Wagub Jawa Barat Pasangan Cagub - Cawagub nomor 5 Rieke-Teten memperoleh peringkat ke 2 dari 5 pasangan calon dengan perolehan suara 5.714.997 suara arau 28,41 persen dari suara sah. [1].

Pendidikan

  • Jurusan Matematika dan Ilmu Kimia, IKIP Bandung (1987)
  • Kursus selama tiga bulan tentang kepemimpinan LSM di El Taller, Tunisa(1989)

Karier

  • Staf peneliti pada Institut Studi dan Informasi Hak Asasi Manusia (1978-1989)
  • Kepala Litbang Serikat Buruh Merdeka Setiakawan (1989-1990)
  • Kepala Divisi Perburuhan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI; 1990-2000)
  • Koordinator Forum Solidaritas Buruh (1992-1993)
  • Koordinator Konsorsium Pembaruan Hukum Perburuhan (1996-1998)
  • Ketua Badan Pekerja Indonesia Corruption Watch (1998-2008)
  • Anggota Ombudsman Nasional (2000 – sekarang)
  • Sekretaris Jenderal Transparency International chapter Indonesia (2009-sekarang)
  • Calon Wakil Gubernur Jawa Barat pada tahun 2013

Penghargaan

  • Suardi Tasrif Award 1999
  • Alumni Berprestasi IKIP Bandung 2000
  • Penghargaan Ramon Magsaysay, 2005
sumber

Mien Soedarpo

Mien Soedarpo (lahir di Bandung, Jawa Barat, 25 Januari 1924 – meninggal di Jakarta, 16 Januari 2013 pada umur 88 tahun) adalah seorang tokoh aktivis perempuan Indonesia. Mien pernah menjabat Ketua Women's International Club periode 1978-1980 dan terpilih kembali untuk periode 1988-1990.

Kehidupan

Mien Soedarpo adalah anak ketiga dari Syarifah Nawawi, seorang tokoh pendidikan berdarah Minangkabau dengan Wiranatakusumah, seorang bangsawan Sunda yang pernah menjabat bupati Cianjur Jawa Barat dan anggota Dewan Pertimbangan Agung.
Suami dari Mien adalah Soedarpo Sastrosatomo, seorang aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia. Dimasa-masa awal kemerdekaan Indonesia Soedarpo berkiprah didunia usaha. Belakangan dia dikenal sebagai salah seorang konglomerat Indonesia yang membangun perusahaan pelayaran raksasa Samudera Grup. Perkawinan mereka telah dikaruniai tiga orang anak.
Mien yang bernama asli Minarsih Wiranatakusumah itu telah meninggal dunia pada tanggal 16 Januari 2013 di Rumah Sakit Abdi Waluyo, Jakarta dalam usia hampir 89 tahun.

sumber